Social Media

WhatsApp Hanya Dihandle 57 Engineer

WHATSAPP MESSENGER — Siapa tidak kenal WhatsApp messenger? hampir dipastikan sebagian besar pengguna smartphone mengunduh aplikasi ini di perangkat mobile mereka. Bahkan jika dihitung pengguna layanan instant messaging ini mencapai 1 miliar pengguna. Bisa dikatakan bahwa satu dari tujuh orang yang ada di dunia ini menggunakan WhatsApp messenger.

Dibalik kesuksesan WhatsApp ini ternyata ada fakta yang cukup mencengangkan, karena untuk menangani traffik dan beban kerja yang berat ini, WhatsApp hanya diurus oleh 57 engineer saja! ini berbeda dengan perusahaan-perusahaan lain yang lebih kecil yang mempekerjakan engineer jauh lebih banyak.

Pendiri WhatsApp Jan Koum lewat akun Facebook personalnya merasa bangka dengan minimnya jumlah enginerr untuk menangani WhatsApp yang begitu besar. “Satu miliar pengguna. Sangat bangga dengan tim kecil kami yang berbuat begitu banyak dalam kurun waktu cuma tujuh tahun,” kata dia.

Rahasia WhatsApp Begitu Efisien

Apa yang membuat WhatsApp begitu efisien dalam masalah sumber daya enginerrnya? Salah seorang Software Engineer WhatsApp, Jamshid Mahdavi menjelaskan bahwa efisiensi Whatsapp salah satunya adalah pada bahasa pemrograman yang dipakai.

WhatsApp sendiri menggunakan bahasa Erlang. Meski bahasa pemrograman telah ada sejak tahun 1980 dan tidak terlalu populer di kalangan programmer, namun dianggap mumpuni mengatur arus komunikasi pararel dari pengguna yang membludak.
Keunggulan dari bahasa pemrograman Erlang lain adalah memungkinkan engineer menyebarkan kode baru secara on-the-fly atau sembari memroses kode itu. Artinya, produktivitas dan kecepatan “Erlang” bisa diandalkan.

Di sisi engine WhatsApp menggunakan komputer bebasis FreeBSD yang spesifikasi hardware-nya tak bisa dibilang super canggih. Semua menggunakan pendekatan yang minimalistik namun memiliki performa tinggi.
Di luar faktor teknis tersebut dalam merekrut karyawan, WhatsApp berusaha untuk merekrut orang-orang terbaik. “Strategi kami adalah merekrut engineer terbaik dan paling bersinar,” tambah Mahdavi.
Pada minggu pertama para engineer baru bekerja, kata Mahdavi, mereka dipersilahkan beradaptasi dan belajar bahasa pemrograman yang digunakan WhatsApp. “Jika yang direkrut orang-orang pintar, mereka akan bisa melakukan itu semua,” tuturnya.

Selain itu di WhatApp sangat jarang dilakukan rapat. Mahdavi juga mengatakan rapat formal di kantor adalah hal yang tak sering-sering dilakukan di WhatsApp. Beberapa pekerja, kata dia, bahkan hampir tak pernah rapat. Sehingga semua karyawan fokus pada pekerjaannya.(#kompas).

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *